Seruling di pasir ipis, merdu
antara gundukan pohon pina,
tembang menggema di dua kaki,
Burangrang – Tangkubanprahu.
INDVESTA.ID – Petikan bait puisi di atas adalah buah karya penyair Ramadhan K.H yang berjudul “Priangan Si Jelita”. Isinya tentu saja mengangkat keindahan alam Priangan, terkhusus alam di Bandung bagian utara. Diksi “pasir ipis” dalam baris pertama kutipan puisi di atas adalah nama sebuah kampung di kaki Gunung Burangrang. Saya sendiri baru sekali mengunjungi Kampung Pasir Ipis karena rasa penasaran akan pengungkapan nama kampung ini dalam puisi Ramadhan K.H. itu. Dan, memang betul, alam di Kampung Pasir Ipis sungguh mempesona dengan kesejukan udaranya yang khas pegunungan.
Namun, dalam tulisan ini saya tak akan mengungkap Kampung Pasir Ipis seperti yang tertera dalam puisi Ramadhan K.H.. Saya akan mengungkap keindahan sebuah kampung di belahan lain Gunung Burangrang yang tak kalah eksotisnya. Namanya Kampung Baruahad. Kampung ini berada di wilayah Ds. Mekartani, Kec. Cisarua, Kab. Bandung Barat. Kebetulan tempat tinggal saya masih satu kecamatan dengan kampung ini, hanya berbeda desa saja.
Untuk menuju Kampung Baruahad, saya tak membutuhkan waktu lama dari rumah saya yang berdekatan dengan Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat. Dari rumah, saya cukup berjalan kaki selama kurang lebih 45 menit untuk mencapai Kampung Baruahad. Jika mengendarai sepeda motor, waktu tempuhnya hanya 10-15 menit.
Mumpung libur, saya menyempatkan diri jalan pagi mengunjungi kampung Baruahad pada Jumat pagi (26/6/2026). Stelan baju olahraga dilapis jaket sudah siap. Udara pagi di wilayah Cisarua, KBB ini memang cukup dingin. Akan sangat beresiko jika keluar rumah pada pagi hari tanpa mengenakan jaket. Topi pun wajib dipakai karena jika matahari sudah mulai meninggi, kepala akan cukup terbakar.
Pukul 06.30 WIB sehabis menyiram tanaman dan menenggak segelas teh hangat, saya mulai berjalan kaki meninggalkan kompleks perumahan tempat tinggal saya. Matahari baru mengintip di sela-sela pohon alpukat depan rumah saya. Jalan kampung langsung menyergap begitu saya tiba di gerbang kompleks. Jalan Cipeusing namanya. Saya mulai berjalan ke utara. Rumah penduduk dan kebun sayur serta rimbunan pohon bambu langsung menyambut. Sekitar 100 meter kemudian, saya menemukan persimpangan jalan. Ke arah kanan menuju Jalan Kolonel Masturi, sedangkan arah lurus menuju Kampung Cibolang dan Kampung Baruahad.
Saya mengambil jalan lurus dan menurun. Hamparan kebun selada dan brokoli langsung menahan langkah saya. Terlebih lagi, dari arah utara langsung tersembul Gunung Burangrang yang seolah mengajak senyum. Punggungnya disapu lembut cahaya matahari. Beberapa saat saya pandangi gunung yang pada awal tahun 2026 ini mencatatkan duka mendalam karena tragedi longsor. Longsor itu menelan puluhan korban jiwa yang hingga saat ini masih banyak korban tak dapat ditemukan oleh tim evakuasi.
Saya lanjutkan menyusuri jalan menurun itu. Di kanan jalan berdiri tebing yang dirimbuni aneka tanaman liar. Di kiri masih menganga lembah dengan hamparan kebun sayurnya. Jalan berkelok membentuk tapal kuda, lalu menanjak. Tebing-tebing masih membentengi kanan jalan. Saya tak boleh lengah meski mata terus terpana oleh hamparan kebun sayur. Semakin ke atas, lembah tampak semakin menganga dan curam. Lengah sedikit saja bisa-bisa lembah itu menerkam tubuh saya. Tubuh bisa jatuh terguling-guling ke dasar lembah yang ada aliran sungai kecil di dalamnya.
Saya terus berjalan. Matahari kian meninggi. Tubuh kian hangat, tapi udara masih terasa sejuk menyegarkan. Rumah-rumah penduduk saya lewati. Mayoritas pekarangan di rumah-rumah itu ditanami aneka tanaman sayur. Tomat, seledri, cabai, terong, atau selada mendominasi di setiap pekarangan. Suasana khas perkampungan penduduk sangat terasa. Dua anak balita bermain di pekarangan. Seorang ibu tua membakar sampah di pinggir parit. Asap mengepul, tapi tak membuat nafas saya sesak karenanya.
Di depan, saya kembali menemukan persimpangan jalan. Ke arah kiri adalah jalan menuju Kp. Cibolang. Beberapa waktu lalu saya pernah melewati kampung itu pakai sepeda motor. Menurut saya suasananya kurang begitu menarik. Di sana terlalu banyak pemukiman penduduk. Warung-warung berderet hampir di sepanjang jalan. Belum lagi bengkel motor dan gudang sayuran. Bahkan sekolah pun ada, mulai sekolah TK, SD, hingga SMP.
Saya berbelok ke arah kanan, arah menuju Kp. Baruahad. Meski jalan yang saya lalui tampak lebih kecil dari sebelumnya, hanya memuat satu mobil, tapi jalannya lumayan bagus. Hanya sedikit lubang-lubang yang menganga. Pemukiman penduduk masih padat. Orang-orang tampak berlalu-lalang. Ada yang memikul cangkul dengan parang terikat di pinggang. Barangkali ia mau ke kebun. Ada juga yang sedang berjongkok di pinggir jalan menunggu mobil tangki penarik susu melintas. Mobil tangki susu itu tiap pagi menarik susu yang diperah oleh para peternak sapi untuk disetorkan ke koperasi susu di Cisarua. Beberapa yang berpapasan dengan saya melempar senyum sambil mengangguk. Tentu saya balas senyum dan anggukannya. Itulah adat penduduk di perkampungan saat berjumpa dengan siapa pun, penuh keramahan dan kehangatan.
Semakin ke utara, jalan semakin banyak yang rusak. bahkan aspalnya sudah banyak yang mengelupas. Tinggal batu-batu dan kerikil yang mendominasi. Rumah penduduk kian jarang terlihat. Tetapi, kebun-kebun kian menghampar luas disaksikan megahnya Gunung Burangrang. Tak henti-hentinya mata saya menatap gunung itu yang tampak lebih besar dan megah. Keringat mulai mengucur karena matahari terus meninggi.
Saya penasaran, bagaimana agar bisa lebih mendekati Gunung Burangrang? Saya meyakini kalau berjalan mendekati gunung, pasti akan menemukan pemandangan yang lebih eksotik. Di kejauhan tampak sepeda motor keluar dari sebuah gang. Di jok belakangnya teronggok sekarung rumput. Pastilah si pengendara motor itu habis menyabit rumput untuk pakan ternaknya. Saya langsung mendekati gang itu. Di mulut gang tampak sebuah plang kecil bertuliskan: Gg. Terusan Lebakjero.
Saya menoleh ke sekeliling. Tak ada seorang pun yang bisa saya tanyai. Hati masih bertanya, apakah gang ini menuju ke arah Gunung Burangrang atau bukan? Demi menuntaskan rasa penasaran, saya masuki mulut gang itu. Di kiri dan kanannya terhampar kebun tomat dan kebun aneka bunga. Kebun bunga tampak sangat mencolok karena diberi penutup berupa plastik transparan untuk melindungi tanaman dari sengatan matahari langsung.
Sehabis kebun tomat dan kebun bunga, ada sebuah kandang sapi. Beberapa ekor sapi tampak sedang melahap pakan. Di dekatnya ada beberapa rumah penduduk. Tapi, keadaan tetap saja sepi. Jalan kecil itu masih terus menuntun saya. Kali ini melewati bagian belakang sebuah rumah. Dan, setelahnya saya dibuat ternganga. Mata saya disergap pemandangan yang menakjubkan. Kembali saya dapati lembah yang jauh lebih dalam dan lebih luas dari yang saya temui sebelumnya.
Lembah itu seluruhnya ditanami aneka jenis sayuran yang berderet rapi seperti barisan tentara di barak militer. Lembah yang menurun hingga ke dasar kemudian bertemu tebing landai di seberangnya yang juga dipenuhi oleh aneka jenis tanaman sayur. Tampak di dasar lembah ada jalan kecil. Seorang pengendara motor dengan suara yang nyaris tidak terdengar tampak di kejauhan menyusuri kebun-kebun sayur itu. Seperti semut kecil saja kelihatannya pengendara motor itu.
Beberapa menit saya berdiri mematung di tepi lembah itu. Pandangan terus beredar ke arah lembah dan gunung. Ya, kini saya sedang berada tepat di kaki Gunung Burangrang. Saya rogoh ponsel di saku celana untuk memotret dan merekam pemandangan yang menakjubkan ini. Sapuan cahaya matahari membuat kualitas gambar di ponsel saya tampak lebih bagus. Punggung gunung tampak lebih berkilau. Sungguh beruntung cuaca hari ini tidak sedang mendung atau berkabut. Langit pun tampak lebih biru.
Punggung gunung menyembul-nyembul meminta didaki. Di satu bagian terdapat bekas longsoran kecil. Hati ini cukup terkesiap. Jangan-jangan longsor besar di belahan barat gunung ini pada beberapa bulan lalu terjadi karena berawal dari longsoran kecil seperti ini. Merinding saya membayangkan bagaimana jika terjadi longsor lagi yang lebih besar? Perkebunan warga di bawahnya pasti akan tersapu longsor dan tertimbun tanah serta bebatuan besar dari lereng gunung.
Resiko longsor itu memang beralasan. Sebab, area disekitarnya sudah beralih fungsi menjadi lahan perkebunan sayur. Pohon-pohon kayu keras mulai menghilang. Jika terjadi hujan dalam intensitas tinggi, bukan tak mungkin bahaya longsor itu mengancam. Tak ada pohon besar lagi yang akan menopang tanah dan bebatuan di lereng gunung. Tapi, semoga saja hal itu tidak terjadi
Puas menikmati pemandangan lembah dan tebing Burangrang, saya kembali menyusuri jalan setapak itu. Meski suasana semakin sunyi, saya masih dihantui rasa penasaran, di mana berakhirnya jalan setapak ini? Semakin masuk ke dalam, semakin banyak pohon besar saya temui. Pemandangan lembah jadi tertutup oleh rimbunnya pepohonan. Suara-suara burung liar mulai ramai bersahutan. Saya terus berjalan ke utara. Pohon semakin banyak dan lebat. Saya baru menyadari bahwa saya sudah mulai memasuki mulut hutan.
Saya mulai berpikir yang bukan-bukan. Jangan-jangan di sekitar sini masih ada babi hutan. Bagaimana kalau tiba-tiba saya diserang babi hutan? Siapa yang akan menolong? Tak ada seorang pun bisa saya mintai pertolongan. Bulu kuduk mulai berdiri. Bukan takut karena hantu, tapi takut berjumpa hewan buas semacam babi hutan atau ular. Wah, bisa berabe saya kalau bertemu hewan-hewan buas itu.
Akhirnya saya putuskan untuk kembali. Meneruskan perjalanan ke dalam hutan sendirian cukup beresiko. Lagipula, perut sudah mulai minta diisi semangkuk bubur ayam atau sepiring nasi kuning. Sejak berangkat dari rumah, perut hanya diisi segelas teh hangat tanpa gula.
Baru beberapa langkah setelah membalikkan badan, dari jauh tampak seseorang sedang memikul karung entah apa isinya. Saya senang karena ada seseorang yang bisa saya tanyai. Semakin dekat, semakin dekat, hingga tibalah kami berpapasan. Seperti biasa, penduduk kampong selalu melempar senyum sambil mengangguk. Saya balas senyumnya. Tapi kali ini sambil menyapanya.
“Bawa apa, Pak?”
“Ini pupuk buat ke kebun,” jawabnya sambil menghentikan langkah seraya menunjuk ke kebun di bawah lembah.
“Nggak pakai motor, Pak?”
“Wah, berabe kalau pakai motor, takut nyungsep hehe…”
Saya tersenyum mendengar jawabannya, “Ini jalan menuju ke mana, Pak?” Tanya saya kemudian.
“Kalau diterusin, ini menuju ke puncak.”
“Oh, berapa lama waktu tempuhnya, Pak?”
“Bagi yang sudah terbiasa mah paling satu jam. Tapi, ada juga jalur yang lebih dekat. Kalau mau, Bapak bisa lewat jalur jalan besar di depan itu sampai mentok, lalu belok kiri masuk jalan setapak kayak gini. Nah, dari sana paling waktu tempuhnya cuma 45 menit,” terangnya sambil menunjuk-nunjuk jalan kampung yang tadi saya lewati.
“Oh, gitu ya, Pak? Oke deh, nanti saya coba muncak lewat jalur itu. Terima kasih, ya, Pak!”
“Sama-sama. Saya lanjut lagi ya…”
“Baik, Pak. Hati-hati.”
Bapak petani itu melanjutkan perjalanannya menuruni jalan setapak menuju ke lembah tempatnya berkebun. Saya kembali melanjutkan perjalanan pulang menyusuri jalan yang sama. Saya bersyukur mendapat informasi untuk bekal suatu saat nanti jika ingin mendaki puncak Gunung Burangrang yang ekstotis itu.
Saya pulang dengan membawa rasa bahagia. Kampung Baruahad, sebuah kampung nan jelita di kaki Gunung Burangrang menawarkan sebuah keindahan yang patut dinikmati. Tak perlu jauh ke luar pulau atau bahkan ke luar negeri. Di dekat kampung sendiri pun eksotika alam karunia Tuhan ini bisa kita nikmati dan syukuri.
Cisarua, Juni 2026
Penulis: Eddi Koben, pedagang masakan dan penyuka buku-buku catatan perjalanan.

















