Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Advertorial

Desa Kabandungan Menyimpan Ragam Potensi Luar Biasa, Simak Informasinya Disini !

11
×

Desa Kabandungan Menyimpan Ragam Potensi Luar Biasa, Simak Informasinya Disini !

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

INDVESTA.ID – Desa Kabandungan merupakan salah satu desa yang terletak di kaki Gunung Salak, tepatnya di Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Berikut adalah pemaparan lengkap mengenai potensi, statistik, serta informasi sarana prasarana Desa Kabandungan.

Berdasarkan administrasi penegasan batas wilayah, Desa Kabandungan berbatasan langsung dengan:

Sebelah Utara: Berbatasan dengan Desa Ciasmara, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor.

Sebelah Selatan: Berbatasan dengan desa lain di lingkup internal Kecamatan Kabandungan (seperti Desa Mekarjaya atau Cipeuteuy).

Sebelah Barat: Berbatasan dengan kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak / wilayah desa tetangga di Kecamatan Kabandungan.

Sebelah Timur: Berbatasan dengan wilayah Desa Tugubandung.

Potensi Desa

Potensi Ekonomi: Perekonomian utama masyarakat Desa Kabandungan bertumpu pada sektor pertanian dan perkebunan. Hasil bumi yang melimpah menjadi komoditas utama, yang kini mulai dikembangkan ke arah sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta ekonomi kreatif lewat produk olahan pangan lokal

Potensi Desa Wisata: Desa Kabandungan sedang diusulkan dan diverifikasi oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi untuk ditetapkan sebagai Desa Wisata resmi. Desa ini mengandalkan kombinasi wisata alam dan kearifan lokal. Beberapa destinasi andalan di sekitarnya meliputi Wisata Telaga Warna, Wisata Curug Central, dan Wisata Tubing Citangkolo.

Informasi Statistik & Jumlah Penduduk

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sukabumi, profil statistik Desa Kabandungan mencakup:

Jumlah Penduduk: 8.903 jiwa, yang terdiri dari 4.549 penduduk laki-laki dan 4.354 penduduk perempuan.

Luas Wilayah: Sekitar 3.001 hektar (3.001.135 Ha).

Pembagian Wilayah: Rata-rata wilayah desa di Kecamatan Kabandungan terbagi ke dalam 4 Dusun serta sekitar 32 RT/RW

Kepala Desa dan Alamat Kantor Desa

Nama Kepala Desa: Bedi (Terpilih sebagai Kepala Desa baru sejak pemilihan serentak). Beliau aktif memimpin berbagai program optimalisasi infrastruktur dan pertanian desa.

lamat Kantor Desa: Jl. Tirta Atmaja No. 12, Kampung Pajagan, Desa Kabandungan, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat (Kode Pos: 43368).

Fasilitas Pendidikan, Keagamaan, dan Kesehatan

Sebagai pusat kegiatan masyarakat, Desa Kabandungan ditunjang oleh sejumlah sarana prasarana pelayanan publik pokok:

Sarana Pendidikan: Memiliki satuan pendidikan formal dan nonformal terpadu, mulai dari PAUD (seperti PAUD Gelatik I), Sekolah Dasar (SD), Madrasah, hingga jenjang sekolah menengah umum (SMP dan SMA).

Sarana Keagamaan:

Mayoritas penduduk memeluk agama Islam, sehingga prasarana keagamaan didominasi oleh Masjid Jami (salah satunya Masjid Jamie Al Ikhlas di Kp. Pajagan) serta deretan Mushola di tiap rukun warga.

Sarana Kesehatan: Pelayanan kesehatan dasar warga diakomodasi oleh fasilitas Puskesmas Rawat Inap Kabandungan, Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), serta jaringan Puskesmas Pembantu (Pustu).

Potensi desa tidak hanya terhampar dalam keindahan alam dan kekayaan budayanya. Di tangan masyarakat kreatif, hasil bumi yang selama ini menjadi komoditas pertanian juga mampu bertransformasi menjadi produk bernilai ekonomi, sekaligus membuka peluang baru bagi kesejahteraan warga.

Hal tersebut terlihat dalam rangkaian kegiatan di Desa Wisata Kabandungan, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, H. Ali Iskandar, meninjau langsung sejumlah produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta ekonomi kreatif yang tumbuh dari potensi lokal masyarakat.

Dalam kunjungannya, Ali Iskandar melihat berbagai produk unggulan warga, mulai dari Sambal Garing Mak Entin yang memanfaatkan hasil panen cabai, Beras Hitam yang dikembangkan melalui kerja sama dengan kelompok tani, Si Peto (Permen Tomat) yang mengolah melimpahnya hasil panen tomat, hingga Gula Aren yang menjadi salah satu produk potensial masyarakat setempat.

Produk-produk tersebut menunjukkan bagaimana kreativitas masyarakat mampu menjadi solusi ketika hasil pertanian mengalami persoalan, terutama saat produksi melimpah namun harga komoditas di pasaran justru menurun.

Ali Iskandar melihat kondisi tersebut sebagai peluang untuk menciptakan nilai tambah. Hasil bumi tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi diolah menjadi produk yang memiliki daya jual, identitas, serta peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Menurutnya, pengembangan potensi desa perlu dilakukan secara menyeluruh. Penguatan tidak cukup hanya pada sisi produksi, tetapi juga harus menyentuh kualitas kemasan, strategi pemasaran, akses pasar, pengembangan ekonomi kreatif, hingga perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

“Ke depannya, penguatan tidak hanya pada aspek produksi, tetapi juga mencakup kemasan, pemasaran, akses pasar, pengembangan ekonomi kreatif, serta perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), agar produk lokal semakin memiliki identitas dan daya saing,” ujar Ali Iskandar.

Langkah tersebut dinilai penting agar produk-produk masyarakat Desa Wisata Kabandungan tidak hanya dikenal sebagai hasil olahan rumahan, tetapi mampu berkembang menjadi bagian dari ekosistem pariwisata sekaligus penggerak ekonomi lokal.

Ketika wisatawan datang menikmati alam dan budaya Kabandungan, produk UMKM masyarakat dapat menjadi bagian dari pengalaman perjalanan mereka. Dengan demikian, aktivitas pariwisata tidak hanya menghadirkan kunjungan, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat desa.

Semangat tersebut menjadi bagian dari upaya membangun desa wisata yang tidak hanya mengandalkan daya tarik destinasi, tetapi juga menjadikan kreativitas masyarakat sebagai kekuatan utama.

Dari hasil bumi menjadi karya. Dari kreativitas menjadi peluang. Dari desa, untuk masa depan pariwisata dan kesejahteraan masyarakat.

Desa Wisata Kabandungan pun terus diarahkan menjadi ruang tumbuh bagi potensi alam, budaya, UMKM, dan ekonomi kreatif masyarakat.

Desa Wisata Kabandungan, terdepan dalam alam dan budaya, menuju penguatan ekonomi masyarakat

Lebih lanjut, Desa Kabandungan, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, menyimpan beragam potensi yang dinilai dapat menjadi modal penting dalam pengembangan pariwisata berbasis desa.

Potensi tersebut mulai dijajaki melalui kegiatan koordinasi, identifikasi potensi, serta verifikasi awal yang dilakukan Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi sebagai tindak lanjut atas usulan penetapan Desa Kabandungan sebagai Desa Wisata.

Langkah ini menjadi bagian penting untuk melihat secara lebih dekat berbagai kekuatan yang dimiliki desa, bukan hanya dari sisi keindahan alam, tetapi juga dari aktivitas masyarakat, kearifan lokal, hingga potensi ekonomi yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata.

Kabandungan memiliki bentang alam yang menawarkan suasana asri dan alami. Berada di kawasan yang berdekatan dengan Gunung Salak serta dalam lanskap kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, desa ini memiliki lingkungan hijau yang berpotensi dikembangkan untuk berbagai aktivitas wisata berbasis alam.

Sejumlah potensi yang teridentifikasi antara lain agrowisata, wisata alam dan kawasan hijau, serta river tubing yang menawarkan pengalaman berbeda bagi wisatawan.

Tidak kalah menarik, masyarakat juga mengembangkan budidaya ikan Torsoro atau yang dikenal sebagai Ikan Dewa. Potensi tersebut tidak sekadar memiliki nilai ekonomi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari atraksi edukasi yang memperkenalkan kekayaan hayati sekaligus aktivitas produktif masyarakat kepada para pengunjung.

Di sisi lain, kekuatan Kabandungan juga terletak pada potensi wisata yang bertumpu pada kearifan lokal dan ekonomi masyarakat. Kehidupan sehari-hari warga, produk lokal, aktivitas pertanian, hingga berbagai bentuk usaha masyarakat dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata yang autentik.

Konsep desa wisata pada akhirnya tidak berhenti pada bagaimana mendatangkan wisatawan ke suatu tempat. Lebih jauh, terdapat pekerjaan besar untuk menata potensi, membangun tata kelola, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, menjaga kelestarian lingkungan, sekaligus memastikan aktivitas pariwisata memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Karena itu, keterlibatan Pemerintah Desa, perangkat desa, masyarakat, serta dukungan berbagai pihak menjadi elemen penting dalam proses pengembangan Kabandungan sebagai desa wisata.

Jika dikelola secara terarah dan berkelanjutan, berbagai potensi yang dimiliki Kabandungan dapat saling terhubung menjadi sebuah pengalaman wisata yang utuh—mulai dari menikmati alam, mengenal aktivitas pertanian, merasakan sensasi river tubing, hingga melihat langsung budidaya Ikan Dewa yang dikembangkan masyarakat.

Pengembangan desa wisata juga diharapkan tidak hanya menciptakan destinasi baru, tetapi mampu membuka ruang bagi tumbuhnya usaha masyarakat, memperluas peluang ekonomi, serta menggerakkan berbagai sektor pendukung pariwisata di tingkat lokal.

Kabandungan kini memiliki cerita untuk dikembangkan. Alamnya menjadi kekuatan, masyarakatnya menjadi penggerak, sementara potensi ekonomi dan kearifan lokal menjadi bagian dari identitas yang dapat ditawarkan kepada wisatawan.

Sebab, pada hakikatnya, pariwisata bukan sekadar tentang tempat indah untuk dikunjungi. Pariwisata juga tentang bagaimana sebuah perjalanan mampu menghadirkan pengalaman, kebahagiaan, membuka peluang usaha, serta menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat setempat.

Dari Kabandungan, sebuah harapan tentang desa wisata berkelanjutan mulai dirangkai—menjaga alam, mengangkat potensi lokal, dan menjadikan masyarakat sebagai bagian utama dari pertumbuhan pariwisata.

Akses transportasi menuju destinasi wisata alam di Desa Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, memiliki karakteristik tersendiri karena lokasinya yang berada di kawasan pegunungan kaki Gunung Salak.

Berikut adalah rincian panduan akses transportasi terlengkap, baik menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum, untuk menjangkau spot-spot alam utama seperti Curug Sentral (1, 2, 3/Holiped) dan kawasan wisata ektra-alam sekitarnya

Rute Menggunakan Kendaraan Pribadi (Sangat Direkomendasikan)

Kendaraan pribadi (terutama motor atau mobil pribadi dengan performa mesin dan rem yang prima) adalah pilihan terbaik karena minimnya transportasi umum yang langsung menyentuh titik lokasi wisata.

  1. Jalur Utama via Parungkuda (Dari Arah Jakarta / Bogor / Sukabumi Kota)

Ini merupakan rute paling umum, paling aman, dan memiliki kondisi jalan aspal yang cenderung bagus

Rute: Tol Bocimi → Keluar di Gerbang Tol Parungkuda → Pertigaan Jalan Raya Parungkuda (dekat Stasiun Parungkuda) → Belok ke arah Kalapanunggal.

Dari Kalapanunggal, lurus terus mengikuti jalan utama inter-kecamatan hingga masuk ke wilayah Kecamatan Kabandungan

Menuju Curug Sentral / Holiped: Setelah melewati area perkantoran kecamatan, ambil arah menuju area Perkebunan Teh PTPN VIII Jayanegara Indah. Gerbang masuk wisata ini berada di dalam kawasan pabrik/perkebunan the.

  1. Jalur Alternatif via Cianten (Dari Arah Leuwiliang, Bogor)

Jalur ini memotong gunung dan langsung menembus perbatasan Bogor–Sukabumi. Sangat cocok untuk pengendara motor atau mobil kecil (bukan bus) yang menyukai petualangan visual kebun teh

  • Rute: Kota Bogor → Leuwiliang → Belok menuju arah Cianten (Kabupaten Bogor) → Ikuti jalan menanjak menembus kebun teh hingga melewati plang perbatasan Kabupaten Sukabumi. Jalur ini langsung membawa Anda turun ke area Kabandungan atas (dekat lokasi Curug Sentral).
  • Catatan: Jalur Cianten cenderung sempit, berkabut tebal di sore hari, dan terdapat beberapa titik makadam/rusak

Rute Menggunakan Transportasi Umum (Membutuhkan Transit)

Jika Anda menggunakan transportasi umum, bersiaplah untuk melakukan beberapa kali transit dan menyambungnya dengan Ojek Lokal, karena angkutan umum reguler menuju objek wisata alam di atas sangat langka

  1. Transit Tahap 1 (Menuju Parungkuda):
    • Dari Jakarta/Bogor: Naik Kereta Api (KA) Pangrango rute Bogor-Sukabumi dan turun di Stasiun Parungkuda. Alternatif lainnya adalah naik bus AKAP jurusan Jakarta-Sukabumi/Pelabuhanratu dan turun di Pertigaan Parungkuda.
    • Dari Pusat Kota Sukabumi: Naik angkutan umum (angkot) atau elf jurusan Sukabumi–Cibadak–Bebegig, lalu turun di Parungkuda.
  1. Transit Tahap 2 (Parungkuda ke Kecamatan Kabandungan):
    • Dari terminal/pertigaan Parungkuda, Anda bisa mencari Angkot lokal atau Colt Mini/Elf jurusan Parungkuda–Kalapanunggal–Kabandungan. Namun, armada angkutan ini jumlahnya terbatas dan biasanya hanya beroperasi sampai sore hari
  2. Transit Tahap 3 (Menuju Titik Wisata):
    • Angkutan umum tersebut hanya akan menurunkan Anda di jalan raya utama atau pasar Kabandungan. Untuk masuk ke dalam kawasan Perkebunan Jayanegara hingga sampai di area parkir Curug Sentral, Anda wajib menyewa Ojek Pangkalan setempat

Bagi warga Jawa Barat yang mendambakan destinasi wisata dengan perpaduan antara keasrian alam dan nilai sejarah, wilayah Kabandungan di Kabupaten Sukabumi adalah jawabannya. Salah satu destinasi unggulannya adalah Curug Sentral Sukabumi. Berbeda dengan air terjun pada umumnya, kawasan ini menyimpan cerita masa lalu yang unik sebagai pusat pembangkit listrik di era kolonial.

Curug Sentral terletak di kawasan Jayanegara, sebuah area yang dikelilingi oleh perkebunan teh yang hijau dan udara pegunungan yang menusuk tulang. Sebagai bagian dari wisata alam Jawa Barat, destinasi ini tidak hanya menawarkan kesegaran air terjun, tetapi juga pengalaman edukasi mengenai jejak infrastruktur kuno yang masih bisa disaksikan hingga saat ini. Daya Tarik Utama Curug Sentral Sukabumi

Kawasan ini sebenarnya terdiri dari rangkaian 7 air terjun (Curug 1 hingga Curug 7), namun Curug Sentral 1 dan 2 adalah yang paling populer. Berikut adalah daya tarik utamanya:

  1. Jejak Sejarah PLTA Peninggalan Belanda

Nama “Sentral” diambil dari fungsi kawasan ini di masa lalu sebagai lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang dibangun oleh Belanda sekitar tahun 1920-an. Hingga kini, beberapa puing bangunan dan infrastruktur kuno masih menjadi daya tarik bagi wisatawan yang menyukai sejarah.

  1. Rangkaian Tujuh Air Terjun yang Unik

Curug Sentral tidak berdiri sendiri. Di sepanjang aliran sungai yang sama, terdapat tujuh tingkatan air terjun. Setiap tingkatan memiliki karakteristik berbeda, mulai dari kolam yang luas untuk berenang hingga jatuhan air yang tinggi di antara tebing batu.

  1. Lanskap Perkebunan Teh Jayanegara

Sebelum mencapai lokasi curug, Anda akan disuguhi pemandangan hamparan perkebunan teh yang luas. Kontur tanah yang berbukit-bukit menciptakan panorama yang menyerupai permadani hijau, sangat cocok untuk menyegarkan mata dan pikiran.

  1. Kolam Alami dengan Air Jernih

Air di Curug Sentral berasal langsung dari pegunungan di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Kejernihan airnya memungkinkan pengunjung untuk melihat dasar sungai, dan suhunya yang dingin memberikan sensasi relaksasi yang luar biasa.

  1. Spot Fotografi yang Eksotis

Perpaduan antara struktur bangunan tua peninggalan Belanda yang mulai ditumbuhi lumut dengan aliran air terjun yang putih jernih menciptakan komposisi foto yang unik dan sangat Instagrammable.

(Nada)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *