INDVESTA.ID – Munculnya kelompok Waluran Green Farmer (WGF) di Kabupaten Sukabumi bukan sekadar tren sesaat, melainkan sinyal kuat regenerasi sektor agraria. Di saat banyak anak muda memilih bermigrasi ke kota, para petani milenial ini justru membuktikan bahwa tanah selatan Sukabumi adalah “tambang emas” jika dikelola dengan inovasi dan kreativitas.
Namun, tantangan pertanian masa depan bukan hanya soal angka produksi, melainkan keberlanjutan lahan. Di sinilah peran krusial pemanfaatan Pupuk Hayati. Penggunaan pupuk berbasis mikroorganisme ini menjadi kunci untuk memulihkan kesehatan tanah yang selama puluhan tahun terkikis oleh penggunaan bahan kimia sintetis secara masif.
Petani milenial memiliki karakter yang terbuka terhadap teknologi dan kesadaran lingkungan yang lebih tinggi. Menggabungkan semangat mereka dengan praktik pertanian organik bukan hanya soal menghasilkan pangan sehat, tetapi juga menjaga warisan alam Sukabumi agar tetap subur bagi generasi mendatang. Petani muda adalah agen perubahan yang paling tepat untuk memutus rantai ketergantungan pada pupuk kimia.
Rekomendasi Langkah bagi Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi:
Untuk menyukseskan transisi menuju pertanian organik dan berkelanjutan, Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi perlu mengambil langkah strategis berikut:
- Subsidi dan Insentif Pupuk Hayati: Alihkan sebagian porsi dukungan input pertanian dari pupuk kimia ke penyediaan pupuk hayati dan organik berkualitas bagi kelompok tani milenial sebagai percontohan.
- Pembangunan “Laboratorium Mini” Desa: Memfasilitasi kelompok seperti WGF dengan alat produksi pupuk hayati mandiri agar petani tidak tergantung pada produk pabrikan dan dapat memanfaatkan limbah ternak atau hutan setempat.
- Sertifikasi Organik Gratis: Membantu proses sertifikasi lahan organik bagi petani muda. Sertifikasi ini penting untuk meningkatkan nilai jual produk mereka ke pasar premium atau ekspor.
- Kurikulum Pelatihan Bio-Teknologi: Mengadakan pelatihan intensif mengenai manajemen mikroba tanah dan pembuatan pestisida nabati yang modern, sehingga bertani organik tidak dianggap sebagai metode “kuno”, melainkan sains masa depan.
- Branding “Sukabumi Green Product”: Membantu pemasaran dengan menciptakan label khusus untuk produk-produk yang menggunakan pupuk hayati, guna menarik konsumen yang peduli pada isu kesehatan dan lingkungan.
Jika sinergi antara kebijakan pemerintah, inovasi teknologi hayati, dan semangat petani muda ini berjalan beriringan, Kabupaten Sukabumi bukan tidak mungkin akan menjadi kiblat pertanian berkelanjutan di Jawa Barat.
(Jackz-Red)















