Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Opini

Kisah Sampah ke GRAMMOR (WtA) Bagian-3: Alasan Ketiga

8
×

Kisah Sampah ke GRAMMOR (WtA) Bagian-3: Alasan Ketiga

Sebarkan artikel ini
Penulis.
Example 468x60

INDVESTA.ID – Alasan ketiga mengapa pengolahan sampah model WtA ini sangat mendesak terletak pada respons kita terhadap isu perubahan iklim (Climate Change). Krisis global ini tidak bisa lagi dijawab dengan retorika, melainkan menuntut aksi mitigasi dan adaptasi yang cerdas, inovatif, berbasis ekonomi sirkular, serta menyentuh isu lintas sektor (Cross-Cutting Issues/ CCI).

Pendekatan CCI artinya satu tindakan mampu menyelesaikan beberapa masalah sektoral sekaligus dalam satu waktu. Sementara ekonomi sirkular memastikan siklus hidup suatu material diperpanjang guna meminimalkan limbah. Melalui kacamata ini, konsep GRAMMOR memosisikan diri bukan sekadar sebagai proyek kebersihan kota biasa, melainkan sebagai mesin penggerak ekologi baru yang mengubah rantai masalah menjadi rantai nilai yang menguntungkan.

Berdasarkan diskusi hangat di dalam grup WhatsApp Perubahan Iklim yang dihuni oleh para pakar dari Pusat Kajian Perubahan Iklim (PPI) ITB, bumi kini sedang menghadapi skenario ngeri kenaikan temperatur global sebesar 2,5°C hingga 3,0°C. Angka kritis ini telah melampaui ambang batas aman Perjanjian Paris yang mematok angka 1,5°C.

Dokumen National Adaptation Plan(NAP) Indonesia menegaskan bahwa situasi ini menuntut pergeseran radikal dari “Adaptasi Inkremental” (penyesuaian skala kecil) menjadi “Adaptasi Transformatif” (perubahan sistemik besar-besaran). Pesan kuncinya sangat gamblang: dalam skenario pemanasan global saat ini, adaptasi bukan lagi sekadar pilihan hijau, melainkan strategi bertahan hidup nasional (national survival strategy).

Sektor persampahan perkotaan selama ini diam-diam menjadi kontributor emisi gas rumah kaca (GRK) yang sangat jahat. Setiap satu ton sampah organik yang ditumpuk di TPA terbuka (open dumping) akan menghasilkan sekitar 50 kilogram gas metana (CH4) akibat pembusukan anaerobik tak terkontrol. Padahal, metana memiliki daya rusak pemanasan global 25 hingga 28 kali lebih kuat daripada karbon dioksida (CO2).

Di situlah teknologi TTT Enzyme Composting dalam konsep GRAMMOR hadir sebagai langkah Mitigasi Transformatif. Dengan memproses habis 3.000 ton sampah organik Bandung Raya dalam reaktor tertutup berenergi mandiri dari sampah anorganiknya, kita berhasil memotong emisi metana hingga 0 persen (zero emission). Langkah ini terbukti tidak hanya menyelamatkan atmosfer, tetapi juga melahirkan kelayakan ekonomi yang riil dengan potensi keuntungan bersih sebelum pajak mencapai Rp177 Miliar per tahun.

Sebagai solusi lintas sektor (CCI), GRAMMOR menjembatani masalah lingkungan di hulu (perkotaan) dengan krisis degradasi lahan di hilir (pertanian). Inovasi ini menyuntikkan karbon organik berkualitas tinggi untuk menyembuhkan tanah sawah nasional yang kondisinya kian kritis akibat jenuh pupuk kimia, di mana kadar C-Organik saat ini merosot tajam di bawah 2 persen.

Dengan kembalinya struktur tanah yang gembur, tanah sawah memiliki daya ikat air yang tinggi sehingga tanaman padi tetap mampu bertahan hidup di tengah ancaman kekeringan ekstrem akibat cuaca yang tak menentu. Model ekonomi sirkular ini memperpanjang siklus hidup material sampah menjadi nutrisi tanah, sekaligus menghentikan pencemaran cairan lindi (leachate) yang selama ini meracuni sumber air tanah urban.

Secara menyeluruh, konsep WtA GRAMMOR adalah manifestasi respons iklim yang cerdas karena menyatukan benang kusut yang melibatkan Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian PU, hingga Kementerian Pertanian dan Ketenagakerjaan ke dalam satu ekosistem yang saling menguntungkan.

Belum pernah ada blueprint pengelolaan sampah sekorporat ini, yang tidak hanya memprioritaskan kelayakan lingkungan, tetapi juga memutar roda ekonomi padat karya melalui “Pasukan Astronot” di jalur pemilahan. Di hampir setiap jengkal prosesnya, mulai dari truk sampah hingga bulir padi, GRAMMOR mencetak profit finansial dan kelayakan sosial secara berkelanjutan. Lewat kemandirian energi dan teknologi bioteknologi ini, jawaban atas tantangan besar krisis iklim kini ada di tangan kita sendiri.

Penulis: Ir.H.Oman Abdurahman, M.T, alumni ITB 1981, Dosen Politeknik Energi dan Pertambangan Bandung, mantan Kepala Museum Geologi  Bandung 2015-2018, dan Pemred Geomagz 2011-2016.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *