Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Artikel

Ma’arif Jamuin, Sosok Matahari Muhammadiyah yang Menyinari ‘Ruang Kuliah Kehidupan’

79
×

Ma’arif Jamuin, Sosok Matahari Muhammadiyah yang Menyinari ‘Ruang Kuliah Kehidupan’

Sebarkan artikel ini
Drs Ma'arif Jamuin, Sosok Matahari Muhammadiyah Sang Pencerah Kuliah Kehidupan
Drs Ma'arif Jamuin, Sosok Matahari Muhammadiyah Sang Pencerah Kuliah Kehidupan
Example 468x60

INDVESTA.ID – Bagi mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), sosok Drs. Ma’arif Jamuin, M.Si. bukan sekadar pengajar yang berdiri di depan papan tulis. Di koridor kampus, namanya kerap disebut dengan penuh rasa hormat sekaligus kehangatan. Laksana matahari bersinar utama dalam lambang Muhammadiyah yang bertugas menyinari semesta, Ma’arif Jamuin menjalankan peran tersebut secara nyata di ruang kuliah kehidupan—menjadi sang pencerah yang sinarnya menembus batas fakultas hingga melahirkan tokoh literasi nasional. Beliau adalah tipe pendidik yang tidak ingin ilmu agama hanya mandek menjadi tumpukan teks, melainkan sebuah instrumen hidup untuk membaca gerak perubahan zaman.

Sang Pembaca Realitas: Fokus pada Sosiologi Agama

Di ruang kelas, Pak Ma’arif—begitu ia akrab disapa—membawa mahasiswa bertualang melampaui doktrin fikih formal. Keahlian utamanya di bidang Sosiologi Agama dan Sosiologi Pendidikan menjadikannya pemandu yang jeli dalam membedah bagaimana agama berinteraksi dengan dinamika sosial budaya.

Melalui kacamata sosiologis, ia menantang mahasiswanya untuk melihat pendidikan Islam bukan sekadar proses transfer ilmu, tetapi sebagai alat transformasi sosial. Topik-topik riset bimbingannya sering kali menyentuh pemikiran progresif, mulai dari kajian rekonstruksi pemikiran pesantren hingga metode pembelajaran konstruktivistik yang membebaskan nalar berpikir siswa.

Pertemuan di Ruang Kuliah Kehidupan

Dampak pemikiran Pak Ma’arif nyata adanya. Pengaruhnya melampaui sekat ruang kuliah formal FAI. Salah satu bukti hidup keberhasilan bimbingannya adalah penulis feature ini yakni Achmad Zazuli, pemilik media online nasional Indvesta.id sekaligus Kepala Biro Media Online Cybernewsnasional.com yang kini menjadi tokoh pers penting di Sukabumi. Selain itu beberapa media online juga dimanage serta membutuhkan kehadirannya dalam manajemen. Sebutlah Sukabumiannews.id, Bicarasukabumi.id, Wartain.com, Lingkarpena.id dan sederet media online lain yang tak luput dari binaanya.

Kisah mereka terbilang unik. Kala itu di awal tahun 2000-an, Achmad Zazuli sebenarnya adalah mahasiswa Fakultas Psikologi UMS, sedangkan Ma’arif Jamuin adalah dosen FAI UMS. Secara administratif akademis, mereka berada di bawah naungan fakultas yang berbeda. Namun, takdir mempertemukan mereka di ruang yang berbeda—bukan di ruang kuliah akademis yang kaku, melainkan di sebuah ruang kuliah kehidupan.

Pertemuan lintas fakultas ini terjadi ketika Zazuli bergabung sebagai volunteer di lembaga swadaya masyarakat Ciscore yang dikomandoi oleh Pak Ma’arif. Di sanalah semua dimulai !, di luar sekat-sekat jurusan kuliah, ia mendapatkan wejangan emas. Dari berbagai pelatihan pendampingan kemanusiaan, pelatihan resolusi konflik oleh Ciscore yang saat itu menggandeng Windan Interfidey Community dan NGO The Asia Foundation (TAF) sampai dengan pendampingan kemanusiaan pada pengungsi Konflik Sampit yang lari ke Sampang. Semu aitu pengalaman yang mengubah arah hidupnya.

“Menulis Itu Mudah”: Jejak Inspirasi yang Melintasi Generasi

Di ruang kuliah kehidupan bernama Ciscore itulah, filosofi literasi ditanamkan. Pak Ma’arif menempa seorang Zazuli yang berbasis psikologi untuk menguasai seni merangkai kata.

“Saya teringat bagaimana dulu Mas Ma’arif—panggilan kami saat itu—mengajarkan filosofi menulis. Beliau berkata bahwa menulis itu mudah. Setebal apa pun sebuah buku, semua hanya berasal dari satu ide kata,” kenang penulis.

Bagi Zazuli, sosok Ma’arif Jamuin adalah pencerah. Ia mengantar pemahaman literasi mendalam. Beliau mengajarkan cara memaknai kata-kata menjadi rangkaian narasi penuh arti yang mampu menyampaikan maksud dan tujuan dengan kuat.

Prediksi yang Menjadi Nyata: Dari Reporter hingga Pimpinan Organisasi Pers

Lebih dari sekadar mengajarkan teknik menulis, Pak Ma’arif adalah seorang motivator ulung yang mampu melihat potensi terpendam anak mudanya. Zazuli mengingat satu kalimat visioner yang pernah diucapkan sang guru kepadanya: “Kalau dimulai saat ini, maka di usia 30 tahun kamu akan sukses.”

Kalimat tersebut terbukti nyata. Berkat tempaan menulis dan berorganisasi di Ciscore, Zazuli mampu menapaki dunia jurnalistik hingga menjadikannya sebagai sumber nafkah utama bagi keluarganya. Jurnalis yang tercatat sebagai Wartawan Madya di Dewan Pers ini kini menduduki posisi strategis sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Sukabumi sekaligus Kepala Bidang Hubungan Antar Lembaga Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sukabumi Raya.

Prinsip pemberdayaan masyarakat yang diajarkan Pak Ma’arif juga tertanam kuat, membimbing Zazuli untuk terus berkomitmen menjadi insan yang bermanfaat bagi sesama (Anfauhum Linnaas).

Produktivitas Literasi Sang Murid

Ketajaman pena yang diwariskan oleh Pak Ma’arif membuat Zazuli terus produktif melahirkan karya monumental. Pada tahun 2004, ia menulis buku bertema budaya berjudul Pamor Eksotik Tosan Aji, sebuah karya yang memiliki napas panjang dan masih terus diterbitkan hingga saat ini.

Tidak berhenti di sana, dalam waktu dekat Zazuli juga akan meluncurkan karya terbarunya bertajuk Bonsai: Seni Alam dan Investasi. Buku ini ditulis dengan dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Sukabumi yang bekerja sama dengan Rumah Bonsai Indonesia (RUBI) Cabang Sukabumi, di mana Zazuli sendiri mendedikasikan dirinya sebagai Penasehat RUBI Cabang Sukabumi. Sebuah bukti nyata bagaimana ilmu “satu ide kata” dari Pak Ma’arif telah berkembang menjadi narasi besar yang diakui pemerintah dan komunitas hobi yang bernilai investasi tinggi.

Multitalenta dan Humanis: Pendiri Tapak Dara

Kiprah luar biasa Pak Ma’arif sendiri tidak berhenti pada dunia akademik dan LSM. Jiwa kepemimpinan dan kedekatannya dengan komunitas lokal juga dibuktikannya melalui jalur seni bela diri. Beliau tercatat pernah mendirikan perguruan silat Tapak Dara, sebuah wadah yang ia gunakan untuk menempa fisik sekaligus mental generasi muda agar memiliki karakter kuat dan mandiri.

Kehangatan Silaturahmi yang Menembus Batas Waktu

Hubungan batin antara guru dan murid ini tetap kokoh melintasi waktu. Meski waktu telah berjalan lebih dari seperempat abad tanpa pertemuan fisik, jalinan silaturahmi dan rasa hormat Zazuli kepada Pak Ma’arif tidak pernah luntur.

Setelah terpisah jarak dan waktu selama lebih dari dua dekade, takdir membawa mereka bersambung kembali di jagat media sosial. Dari ruang digital itulah, kerinduan akan ruang kuliah kehidupan masa lalu menemui jalannya, hingga akhirnya mereka bisa bersilaturahmi kembali secara nyata. Nostalgia masa-masa perjuangan awal tahun 2000-an itu terus terngiang, membuktikan bahwa dedikasi Pak Ma’arif selalu hidup di hati orang-orang yang pernah dibimbingnya.

Merawat Gagasan Lewat Literasi

Sebagai intelektual Muhammadiyah, Pak Ma’arif juga mengabadikan pemikirannya dalam bentuk tulisan. Salah satu kontribusi literasinya yang diterbitkan oleh Muhammadiyah University Press (MUP) adalah buku berjudul Internasionalisasi Gerakan Muhammadiyah. Melalui karya ini, ia memotret bagaimana gerakan dakwah kultural lokal mampu melintasi batas negara dan menjawab tantangan global modern.

Entah berapa ratus atau bahkan ribuan sosok lagi di luar sana yang telah mendapat manfaat, didikan, dan percikan semangat dari seorang Mas Ma’arif. Melalui dedikasinya di ruang kelas FAI, tulisan, tindakan nyata di masyarakat, hingga “ruang kuliah kehidupan”, Drs. Ma’arif Jamuin, M.Si. telah membuktikan esensi sejati dari seorang pendidik.

Semoga beliau senantiasa diberikan panjang umur, sehat selalu, dan terus konsisten membawa cahaya pencerahan di tengah era disrupsi informasi yang penuh dengan fitnah dan ketidakpastian ini. Sinar matahari itu akan terus menghangatkan dan menuntun generasi masa depan.

Penulis : Achmad Zazuli – Murid Kuliah Kehidupan Maarif Jamuin

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *