Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
BisnisPariwisataPemerintahan

Panggung Orisinalitas Silih Asih Asah Asuh, Meneguhkan Identitas Kabupaten Sukabumi Lewat Desa Wisata

9
×

Panggung Orisinalitas Silih Asih Asah Asuh, Meneguhkan Identitas Kabupaten Sukabumi Lewat Desa Wisata

Sebarkan artikel ini
Example 468x60
INDVESTA.ID – Pengukuhan 31 desa dan kampung wisata oleh Bupati Sukabumi, H. Asep Japar, di Karangpara menjadi sorotan dalam diskusi pegiat media dan literasi di C’Kopi Gaud. Diskusi tersebut menekankan pentingnya menjaga orisinalitas budaya lokal dan kearifan lokal dalam pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.
Tokoh media seperti Kang Aves, Aam Abdul Salam, Siti Ratna Maymunah, dan Achmad Zazuli sepakat bahwa inisiatif ini harus memulihkan identitas Sunda dan meningkatkan ekonomi warga desa, bukan sekadar komersialisasi. Komunitas PWI dan SMSI Sukabumi Raya berkomitmen mengawal langkah ini melalui edukasi sadar wisata dan promosi keunikan desa, menjadikannya pusat peradaban baru yang berbasis Silih Asih, Asah, dan Asuh.
Sore itu, sang pemilik C’Kopi Gaud sekaligus Penasehat PWI Kab. Sukabumi, Kang Aves, sibuk menyeduh kopi. Di hadapannya, nampak para tokoh media dan literasi: Aam Abdul Salam (Penasehat PWI & SMSI / Presidium MD KAHMI), Dede Heri (Rumah Literasi Merah Putih), Siti Ratna Maymunah (CEO Wartain.com), serta Achmad Zazuli (CEO Investa.id Majalah Bisnis dan Pariwisata/Plt. Sekretaris PWI Kab. Sukabumi).

Nampak asap tipis mengepul dari cangkir-cangkir di C’Kopi Gaud. Kedai ini bukan sekadar tempat menyeduh kafein. Di sini, gagasan besar sering lahir dari obrolan paling santai. Topik meja kopi kali ini berat, namun dikunyah dengan rileks. Mereka merespon langkah Bupati Sukabumi, H. Asep Japar, yang baru saja mengukuhkan 31 desa/kampung wisata di Karangpara, Gunungguruh.

“Desa wisata itu panggung orisinalitas,” puji Kang Aves sambil menyodorkan kopi hangat.

Dari Cimaja yang magis hingga eksotisme Megalodon, Sukabumi adalah kanvas seni yang hidup. Di meja kopi, mereka sepakat bahwa 31 desa ini jangan sampai terjebak komersialisasi hambar. Seni arsitektur lokal, tutur bahasa yang santun, dan ritme hidup pedesaan adalah karya seni tertinggi yang dicari manusia modern, tegas Kang Aves. Sementara itu Aam melihat momentum ini dari akar sosiologis Sunda. Pengukuhan ini adalah pemulihan identitas”.

Desa bukan halaman belakang kota, melainkan pusat peradaban baru.

Untuk membangun pariwisata berbasis masyarakat (Community Based Tourism) adalah wujud nyata filosofi Silih Asih, Silih Asih, Silih Asuh”. Warga desa harus menjadi sutradara di tanah mereka sendiri, bukan sekadar penonton industrialisasi pariwisata, ungkap Aam.

Siti Ratna Maymunah CEO Wartain.Com membedah angka-angka dengan optimis namun realistis. Destinasi baru berarti pasar baru bagi UMKM lokal. Sirkulasi Pendapatan Uang dari wisatawan langsung masuk ke warung warga, pemandu lokal, dan penginapan rakyat.

Untuk kemandirian Fiskal, optimalisasi potensi pariwisata akan mendongkrak Pendapatan Asli Desa (PADes) secara mandiri. Untuk pemberdayaan Perempuan, dengan Industri kreatif pedesaan biasanya digerakkan oleh kelompok perempuan tani dan pengrajin lokal, ujar Siti Ratna juga sebagai Bendahara SMSI Sukabumi Raya.

Achmad Zazuli CEO Investa.Id dan
Dede Heri senada menarik ruang diskusi ke ranah batiniah. Wisata ke Sukabumi harus menjadi perjalanan spiritual (spiritual tourism).

Suasana asri di Buniayu, keheningan di Gunung Wayang, atau gemercik air di Leuwi Ereng bukan sekadar pemandangan. Mereka adalah sugesti ketenangan. Destinasi ini harus dirawat agar tetap bersih dan asri, menjadi tempat penyembuhan (healing) bagi jiwa-jiwa urban yang lelah, ungkap Achmad Zazuli.

Komitmen Pena dan Literasi

Obrolan di C’Kopi Gaud mengkristal pada satu kesadaran: maklumat Bupati H. Asep Japar butuh kerja kolosal. Di sinilah PWI dan SMSI Sukabumi Raya mengambil tanggung jawab moral. Tugas media bukan lagi sekadar menulis berita seremonial, melainkan membangun literasi pariwisata di tengah masyarakat.

Lakukan Edukasi Sadar Wisata, menulis narasi yang mengubah pola pikir warga agar menjadi tuan rumah yang ramah dan menjaga kebersihan.

Mengangkat keunikan spesifik dari tiap-tiap 31 desa (seperti Hanjeli, Purwasedar, atau Ciburial) ke kancah nasional dan global.

Mengawal agar pembangunan infrastruktur pendukung tetap menjaga kelestarian alam dan tidak merusak tatanan adat.

Kopi mulai dingin, namun semangat di lingkar meja justru makin hangat. Pengukuhan 31 desa wisata adalah awal dari perjalanan panjang. Dengan gotong royong, pena jurnalis, dan kesadaran warga, bumi Sukabumi siap menyuguhkan ketenangan sejati bagi dunia.

(Jackz)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *