DON QUIXOTE ZAMAN KITA
Bagaimanapun
sekalipun tampak fiksional
ia lahir dari rahim demokrasi.
Dan meski saat lahir
usianya terlampau tua
ia makin terampil
main pedang dan naik kuda.
Hari ke hari
di atas kuda yang itu-itu juga
ia asah lidahnya berkarat
serta pedangnya tumpul
demi bikin tumbang
seluruh legiun asing
di kepalanya.
Pengeras suara dinyalakan
saban waktu.
Tepuk tangan dan juru dengung
membahana
di rentetan kabar baik
yang tak sudi
menghampiri kita.
(Lihat,
nilai
mata uang
dan
akal sehat
berjatuhan
dari istal
istananya).
Di hadapan kamera
tiap kali selesai
menyambangi benua
seorang pembisik—
Dulcinea yang menawan
tergopoh-gopoh
mengempit map dan rahasia
lantas menjentikkan jemari
tanda statistik nan epik
siap didiseminasikan
kepada dunia.
Ia pun mengangguk-angguk
menebar-nebar slogan
dan kecup jauh
dari atas tunggangannya.
Membiarkan sesosok badut
sebilah pedang
mencuat
dari kehampaan dirinya.
Sementara di luar kamera
jutaan ekor kuda
—atawa nasib sebuah bangsa
semakin gontai saja
menanggung gerak-gerik
lidah dan gagasannya
yang, wah, nahasnya
sudah sungguh sangat dalam
dalam binasa.
*) Zulkifli Songyanan adalah penulis puisi, esai, berita, dan iklan. Kartu Pos dari Banda Neira (2017) serta Saripati Hidup & Mati (2022) merupakan kumpulan puisinya yang sudah terbit. Saat ini sedang menyiapkan buku nonfiksi pertamanya, Hari-Hari di Avord Hostel.


















